MAKALAH
TUGAS : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
NAMA : LA ODE HAJIDUN
NIM : 12202201012
PROGRAM
STUDI
ADMINISTRASI
PEMERINTAHAN DAERAH (ADPD) KELAS PENGEMBANGAN LOMBE
UNIVERSITAS
MUSLIM BUTON
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb. Puji
syukur atas rahmat Allah SWT, berkat rahmat serta karunia-Nya sehingga makalah
dengan berjudul ‘Keimanan dan ketakwaan kepada allah swt, eksistensi manusia, martabat
manusia dan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dalam pandangan islam’
dapat selesai.
Makalah ini dibuat dengan tujuan
menambah wawasan kepada pembaca tentang Keimanan dan ketakwaan kepada allah swt,
eksistensi manusia, martabat manusia dan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK)
dalam pandangan islam.
Penulis menyampaikan ucapan
terima. Berkat tugas yang diberikan ini, dapat menambah wawasan penulis
berkaitan dengan topik yang diberikan. Penulis juga mengucapkan terima kasih
yang sebesarnya kepada semua pihak yang membantu dalam proses penyusunan
makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam
penyusunan dan penulisan masih melakukan banyak kesalahan. Oleh karena itu
penulis memohon maaf atas kesalahan dan ketaksempurnaan yang pembaca temukan
dalam makalah ini. Penulis juga mengharap adanya kritik serta saran dari
pembaca apabila menemukan kesalahan dalam makalah ini.
Lombe, 4 Desember
2022
Penulis : La Ode Hajidun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN ……………………………………....................................... 1
1.1 Latar Belakang
…………………………………………............................................ 1
1.2 Rumusan Masalah …………………………………….............................................. 2
1.3 Tujuan ...............………………………………………............................................. 2
BAB II PEMBAHASAN ………………………………………...................................... 3
2.1 Keimanan dan Ketakwaan Kepada Allah SWT
....................................................... 3
2.2 Eksistensi Manusia……………................................................................................ 8
2.3 Martabat
Manusia……............................................................................................. 9
2.4 ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) Dalam pandangan
islam..........................
10
BAB III PENUTUP ……………………………………….............................................. 13
A. Simpulan ………………………………….................................................................. 13
B. Saran
……….............................................................................................................. 13
DAFTAR PUSTAKA
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam surat
al-Baqarah 165 dikatakan bahwa orang yang beriman adalah orang yang amat sangat
cinta kepada Allah (asyaddu hubban lillah). Oleh karena itu beriman
kepada Allah berarti amat sangat rindu terhadap ajaran Allah, yaitu al-Qur’an
dan Sunnah Rasul. Hal itu karena apa yang dikehendaki Allah, menjadi kehendak
orang yang beriman, sehingga dapat menimbulkan tekad untuk mengorbankan
segalanya dan kalau perlu mempertaruhkan nyawa. Demikianlah pengaruh dan
manfaat iman pada kehidupan manusia, ia bukan hanya sekedar kepercayaan yang
berada dalam hati, tetapi menjadi kekuatan yang mendorong dan membentuk sikap
dan perilaku hidup. Apabila suatu masyarakat terdiri dari orang-orang yang
beriman, maka akan terbentuk masyarakat yang aman, tentram, damai, dan
sejahtera.
manusia dapat eksis jika ia mampu
mencapai taraf keimanan yang teguh dan memiliki kreatifitas yang mengandung
nilai guna yang diperoleh melalui aktualisasi diri yang dijalankan sesuai
dengan petunjuk Al-Q, ur’an. Atas dasar iman dan kreatifitas ini, manusia akan
dapat menyesuaikan kehendaknya sebagai mahluk dengan kehendak Allah sebagai
Khaliq. Inilah yang sebut sebagai Insan Kamil. Alquran
memberi tahu kita bahwa manusia telah secara aktif diciptakan dengan cara yang
sangat pribadi oleh Tangan Tuhan yang langsung. Pakar Alquran, Imam Shihab
Ad-Din al-Alusi berpendapat bahwa “semua anggota umat manusia, termasuk yang
saleh dan berdosa, diberkahi dengan martabat, kemuliaan dan kehormatan.
Konsep-konsep ini tidak eksklusif untuk kelompok atau kelas orang tertentu.”
Ketika orang bertanya kepada
Al-Farabi tentang kebaikan yang harus dibagikan oleh manusia, komentar pertama
yang dia buat adalah “kita semua harus berbagi status.” Yang dimaksud dengan status adalah bahwa semua manusia adalah
pemegang harkat dan martabat manusia. Konsep
Islam tentang martabat manusia dapat membantu kita merumuskan jawaban atas
banyak pertanyaan kehidupan.
Nurcholish Madjid dalam
tulisannya, Pandangan Dunia Alquran: Ajaran tentang Harapan kepada Allah dan
Seluruh Ciptaan, mengatakan bahwa alam raya ini diciptakan Allah dengan benar
(haq) (QS Az-Zumar: 5). Sebab, ia itu benar atau diciptakan dengan benar, alam
ini mempunyai hakikat, yaitu kenyataan yang benar. Kosmologi haqqiyah
mengandung dalam dirinya pandangan bahwa alam adalah tertib atau harmonis,
indah, dan bermakna. Dengan kata lain,
kosmologi haqqiyah membimbing kita kepada sikap berpengharapan atau optimistis
kepada alam ciptaan Allah itu. Dan sikap itu sendiri merupakan kelanjutan atau
konsekuensi sikap serupa kepada Allah. Dengan pandangan seperti itu, berbagai
macam pengembangan pengetahuan terhadap realitas alam raya ini juga menjadi hal
yang mesti dan bahkan diharuskan.
Menengok sejarah peradaban Islam
zaman dulu, kita akan menemukan para ilmuwan muslim yang mengembangkan iptek.
Tokoh-tokoh semisal Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (780—850, matematikawan),
Abu Ar-Raihan Muhammad bin Ahmad al-Biruni (973—1048, fisikawan), Jabir bin
Hayyan al-Kufi as-Sufi (781—815, kimiawan), ad-Dinawari (w. 895, biolog), dan Muhammad
al-Fazari (w. 777, astronom), merupakan beberapa di antara ilmuwan Islam yang
sangat genius saat itu. Mereka membaca
Alquran, mencipta karya, teori, dan penemuan baru yang luar biasa. Jadi, Islam
tidak anti-iptek, tetapi mendorong pengembangannya. Wallahualam.
1.2 Rumusan
Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan keimanan dan ketakwaan kepada allah swt ?
2.
Apa yang dimaksud dengan martabat manusia dalam pandangan islam ?
3.
Apa yang dimaksud dengan martabat manusia ?
4.
Bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi ( iptek ) dalam pandangan islam ?
1.3 Tujuan
Tujuan dari pada pembahasan dalam
pembuatan makalah ini adalah, untuk mengetahui keimanan dan ketakwaan kepada
allah swt, eksistensi manusia, martabat manusia serta memahami ilmu pengetahuan
dan teknologi (IPTEK) dalam pandangan islam,
BAB II. PEMBAHASAN
2.1 Keimanan Dan
Ketakwaan Kepada Allah Swt
A. Pengartian Iman
Kebanyakan orang menyatakan bahwa kata iman berasal dari kata kerja amina-ya’manu-amanan yang
berarti percaya. Oleh karena itu, iman yang berarti percaya menunjuk sikap
batin yang terletak dalam hati. Akibatnya, orang yang percaya kepada Allah dan
selainnya seperti yang ada dalam rukun iman, walaupun dalam sikap kesehariannya
tidak mencerminkan ketaatan atau kepatuhan (taqwa) kepada yang telah
dipercayainya, masih disebut orang yang beriman. Hal itu disebabkan karena
adanya keyakinan mereka bahwa yang tahu tentang urusan hati manusia adalah
Allah dan dengan membaca dua kalimah syahadat telah menjadi Islam. Dalam surat al-Baqarah 165
dikatakan bahwa orang yang beriman adalah orang yang amat sangat cinta kepada
Allah (asyaddu hubban lillah). Oleh karena itu beriman kepada Allah
berarti amat sangat rindu terhadap ajaran Allah, yaitu al-Qur’an dan Sunnah
Rasul. Hal itu karena apa yang dikehendaki Allah, menjadi kehendak orang yang
beriman, sehingga dapat menimbulkan tekad untuk mengorbankan segalanya dan
kalau perlu mempertaruhkan nyawa.
Dalam hadits diriwayatkan Ibnu Majah Atthabrani, iman didefinisikan dengan
keyakinan dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan diwujudkan dengan amal
perbuatan (Al-Iimaanu ‘aqdun bil qalbi waiqraarun billisaani wa’amalun bil
arkaan). Dengan demikian, iman merupakan kesatuan atau keselarasan
antara hati, ucapan, dan laku perbuatan, serta dapat juga dikatakan sebagai
pandangan dan sikap hidup atau gaya hidup. Istilah iman dalam al-Qur’an
selalu dirangkaikan dengan kata lain yang memberikan corak dan warna tentang
sesuatu yang diimani, seperti dalam surat an-Nisa’: 51 yang dikaitkan
dengan jibti (kebatinan/idealisme) dan thaghut (realita/naturalisme). Sedangkan
dalam surat al-Ankabut: 52 dikaitkan dengan kata bathil, yaitu walladziina aamanuu
bil baathili. Bhatil berarti tidak benar menurut Allah.
Dalam surat lain iman dirangkaikan dengan kata kaafir atau
dengan kata Allah. Sementara dalam al-Baqarah: 4, iman dirangkaikan dengan kata
ajaran yang diturunkan Allah (yu’minuuna bimaa unzila ilaika wamaa unzila
min qablika).
Kata iman yang tidak dirangkaikan dengan kata lain dalam al-Qur’an,
mengandung arti positif. Dengan demikian, kata iman yang tidak dikaitkan dengan
kata Allah atau dengan ajarannya, dikatakan sebagai iman haq.
Sedangkan yang dikaitkan dengan selainnya, disebut iman bathil.
B. Wujud Iman
Akidah Islam dalam al-Qur’an disebut
iman. Iman bukan hanya berarti percaya, melainkan keyakinan
yang mendorong seorang muslim untuk berbuat. Oleh karena itu lapangan iman
sangat luas, bahkan mencakup segala sesuatu yang dilakukan seorang muslim yang
disebut amal saleh. Seseorang dinyatakan iman bukan hanya percaya terhadap
sesuatu, melainkan kepercayaan itu mendorongnya untuk mengucapkan dan melakukan
sesuatu sesuai dengan keyakinan. Karena itu iman bukan hanya dipercayai atau
diucapkan, melainkan menyatu secara utuh dalam diri seseorang yang dibuktikan
dalam perbuatannya.
Akidah
Islam adalah bagian yang paling pokok dalam agama Islam. Ia merupakan keyakinan
yang menjadi dasar dari segala sesuatu tindakan atau amal. Seseorang dipandang
sebagai muslim atau bukan muslim tergantung pada akidahnya. Apabila ia
berakidah Islam, maka segala sesuatu yang dilakukannya akan bernilai sebagai
amaliah seorang muslim atau amal saleh. Apabila tidak berakidah, maka segala
amalnya tidak memiliki arti apa-apa, kendatipun perbuatan yang dilakukan
bernilai dalam pendengaran manusia. Akidah Islam atau iman mengikat seorang muslim,
sehingga ia terikat dengan segala aturan hukum yang datang dari Islam.
Oleh karena itu menjadi seorang muslim berarti meyakini dan melaksanakan segala
sesuatu yang diatur dalam ajaran Islam. Seluruh hidupnya didasarkan pada ajaran
Islam.
C. Proses
Terbentuknya Iman
Spermatozoa
dan ovum yang diproduksi dan dipertemukan atas dasar ketentuan yang digariskan
ajaran Allah, merupakan benih yang baik. Allah menginginkan agar makanan yang
dimakan berasal dari rezeki yang halalan thayyiban. Pandangan dan
sikap hidup seorang ibu yang sedang hamil mempengaruhi psikis yang
dikandungnya. Ibu yang mengandung tidak lepas dari pengaruh suami, maka secara
tidak langsung pandangan dan sikap hidup suami juga berpengaruh secara
psikologis terhadap bayi yang sedang dikandung. Oleh karena itu jika seseorang
menginginkan anaknya kelak menjadi mukmin yang muttaqin, maka suami
isteri hendaknya berpandangan dan bersikap sesuai dengan yang dikehendaki
Allah. Benih iman yang dibawa sejak dalam kandungan memerlukan pemupukan yang
berkesinambungan. Benih yang unggul apabila tidak disertai pemeliharaan yang
intensif, besar kemungkinan menjadi punah. Demikian pula halnya dengan benih
iman. Berbagai pengaruh terhadap seseorang akan mengarahkan iman/kepribadian
seseorang, baik yang datang dari lingkungan keluarga, masyarakat, pendidikan,
maupun lingkungan termasuk benda-benda mati seperti cuaca, tanah, air, dan
lingkungan flora serta fauna.
Pengaruh
pendidikan keluarga secara langsung maupun tidak langsung, baik yang disengaja
maupun tidak disengaja amat berpengaruh terhadap iman seseorang. Tingkah laku
orang tua dalam rumah tangga senantiasa merupakan contoh dan teladan bagi
anak-anak. Tingkah laku yang baik maupun yang buruk akan ditiru anak-anaknya.
Jangan diharapkan anak berperilaku baik, apabila orang tuanya selalu melakukan
perbuatan yang tercela. Dalam hal ini Nabi SAW bersabda, “Setiap anak, lahir membawa
fitrah. Orang tuanya yang berperan menjadikan anak tersebut
menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi”. Pada dasarnya, proses pembentukan iman
juga demikian. Diawali dengan proses perkenalan, kemudian meningkat menjadi
senang atau benci. Mengenal ajaran Allah adalah langkah awal dalam mencapai
iman kepada Allah. Jika seseorang tidak mengenal ajaran Allah, maka orang
tersebut tidak mungkin beriman kepada Allah. Seseorang yang
menghendaki anaknya menjadi mukmin kepada Allah, maka ajaran Allah harus
diperkenalkan sedini mungkin sesuai dengan kemampuan anak itu dari tingkat
verbal sampai tingkat pemahaman. Bagaimana seorang anak menjadi mukmin, jika
kepada mereka tidak diperkenalkan al-Qur’an. Di samping
proses pengenalan, proses pembiasaan juga perlu diperhatikan, karena tanpa
pembiasaan, seseorang bisa saja semula benci berubah menjadi senang. Seorang
anak harus dibiasakan untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Allah dan
menjauhi hal-hal yang dilarang-Nya, agar kelak setelah dewasa menjadi senang
dan terampil dalam melaksanakan ajaran-ajaran Allah. Berbuat sesuatu
secara fisik adalah satu bentuk tingkah laku yang mudah dilihat dan diukur.
Tetapi tingkah laku tidak terdiri atas perbuatan yang menampak saja. Di
dalamnya tercakup juga sikap-sikap mental yang tidak selalu mudah ditanggapi
kecuali secara tidak langsung (misalnya, melalui ucapan atau perbuatan yang
diduga dapat menggambarkan sikap mental tersebut); bahkan secara tidak langsung
itu adakalanya cukup sulit menarik kesimpulan yang teliti. Di dalam tulisan ini
dipergunakan istilah tingkah laku dalam arti luas dan dikaitkan dengan
nilai-nilai hidup, yakni seperangkat nilai yang diterima oleh manusia sebagai
nilai yang penting dalam kehidupan yaitu iman. Yang dituju adalah tingkah laku
yang merupakan perwujudan nilai-nilai hidup tertentu, yang disebut tingkah
laku terpola.
D. Tanda-tanda
Orang Beriman
Al-Qur’an menjelaskan tanda-tanda
orang yang beriman sebagai berikut:
1.
Jika disebut nama Allah, maka hatinya
bergetar dan berusaha agar ilmu Allah tidak lepas dari syaraf memorinya, serta
jika dibacakan ayat al-Qur’an, maka bergejolak hatinya untuk segera
melaksanakannya (al-Anfal: 2). Dia akan berusaha memahami ayat yang tidak
dia pahami sebelumnya.
2.
Senantiasa tawakkal, yaitu bekerja keras
berdasarkan kerangka ilmu Allah, diiringi dengan doa, yaitu harapan untuk tetap
hidup dengan ajaran Allah menurut Sunnah Rasul (Ali Imran: 120, al-Maidah: 12, al-Anfal: 2, at-Taubah:
52, Ibrahim: 11, Mujadalah: 10, dan at-Taghabun:
13).
3.
Tertib dalam melaksanakan shalat dan
selalu menjaga pelaksanaannya (al-Anfal: 3 dan al-Mu’minun:
2, 7). Bagaimanapun sibuknya, kalau sudah masuk waktu shalat, dia segera shalat
untuk membina kualitas imannya.
4.
Menafkahkan rezki yang diterimanya (al-Anfal: 3
dan al-Mukminun: 4). Hal ini dilakukan sebagai suatu
kesadaran bahwa harta yang dinafkahkan di jalan Allah merupakan upaya
pemerataan ekonomi, agar tidak terjadi ketimpangan antara yang kaya dengan yang
miskin.
5.
Menghindari perkataan yang tidak
bermanfaat dan menjaga kehormatan (al-Mukminun: 3, 5). Perkataan yang
bermanfaat atau yang baik adalah yang berstandar ilmu Allah, yaitu al-Qur’an
menurut Sunnah Rasulullah.
6.
Memelihara amanah dan menempati janji (al-Mukminun:
6). Seorang mu’min tidak akan berkhianat dan dia akan selalu memegang amanah
dan menepati janji.
7.
Berjihad di jalan Allah dan suka
menolong (al-Anfal: 74). Berjihad di jalan Allah adalah
bersungguh-sungguh dalam menegakkan ajaran Allah, baik dengan harta benda yang
dimiliki maupun dengan nyawa.
8.
Tidak meninggalkan pertemuan sebelum
meminta izin (an-Nur: 62). Sikap seperti itu merupakan salah satu sikap
hidup seorang mukmin, orang yang berpandangan dengan ajaran Allah dan Sunnah
Rasul.
E. Definisi Tentang At-Taqwa
1. Definisi At-Taqwa didalam
Al-qur’an
Menurut prof. Dr. M.
Quraish Shihab, MA. Kata Taqwa dalam berbagai bentuk dan konteksnya
didalam Al-Qur’an terdapat 258 ayat yang menjelaskan tentang Taqwa. Sedangkan
menurut pendapat lain ayat dalam al-qur’an yang menjelaskan taqwa ada 216 ayat
bahkan 224 ayat. Namun, Didalam beberapa ayat dalam Al-qur’an tentang
Taqwa hanya mengandung tiga pengertian, Yaitu;
1) At-Taqwa berarti takut:
“...dan
hanya kepada Akulah (Allah) kamu harus bertaqwa”.{QS.AL-baqarah:41}
“dan peliharalah dirimu dari (azab yang
terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah”.
{QS.AL-baqarah:281}
2) At-Taqwa berarti patuh dan tunduk:
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada
Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya”; ”.{QS.Ali Imran:102}.
Ibnu abbas berkata, “Taatlah kamu kepada Allah dengan
sebenar-benar taat.”Mujahid mengatakan, ”Wajib bagi kita taat kepada Allah.
Tidak membantah, senantiasa mengingat-Nya, mensyukuri nikmat-Nya, dan tidak
kufur.”
3) At-Taqwa berarti membersihkan diri dari segala dosa.
Dan inilah hakikat taqwa, sebagaimana firman Allah:
“dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya
dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, Maka mereka adalah orang- orang
yang mendapat kemenangan/beruntung”.{QS.An-Nur:52}.
Jadi, Taqwa selain mengandung arti taat dan
takut, juga berarti membersihkan diri dari perbuatan maksiat. Yang dimaksud
dengan takut kepada Allah ialah takut kepada Allah disebabkan dosa-dosa yang
telah dikerjakannya, dan yang dimaksud dengan taqwa ialah memelihara diri dari
segala macam dosa-dosa yang mungkin terjadi. Sebagian ulama’ membagi taqwa
menjadi tiga tingkatan, Yaitu;
1. Membersihkan diri dari perbuatan musyrik.
2.
Membersihkan
diri dari perbuatan bid’ah
3. Membersihkan diri dari segala perbuatan maksiat
Kata Taqwa,
yang pertama mengandung arti membersihkan diri dari perbuatan musyrik, dan iman
yang disertai tauhid. Sedangkan arti kedua, mengandung arti menjauhi perbuatan
bid’ah dan keimanan yang disertai ikrar atas aqidah ahli sunnah waljama’ah. Dan
arti yang ketiga, menunjukkan arti membersihkan diri dari segala maksiat dengan
disertai ihsan, yang berarti istiqamah dan taat.
2. Definisi At-Taqwa menurut
Bahasa dan Istilah
Menurut
bahasa, taqwa berasal dari bahasa Arab yang berarti memelihara diri dari
siksaan Allah SWT, yaitu dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi
segala larangan-Nya (Imtitsalu awamirillah wajtinabu nawahihi).
Taqwa
berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara, yakni
menjaga diri agar selamat dunia dan akhirat.
Kata Waqa
juga bermakna melindungi sesuatu, yakni melindunginya dari berbagai hal yang
membahayakan dan merugikan. Sedangkan, Pengertian taqwa menurut istilah kita
dapatkan di banyak literatur, termasuk Al-Quran, Hadits, dan pendapat sahabat
serta para ulama’. Semua pengertian takwa itu mengarah pada satu konsep: yakni
melaksanakan semua perintah Allah SWT, menjauhi larangannya, dan menjaga diri
dari perbuatan maksiat agar terhindari dari api neraka atau murka Allah SWT.
f. Tanda-tanda Orang Yang Bertaqwa
1. Beriman
kepada Allah dan yang ghaib(QS.Al-baqarah:2-3)
2.
Sholat, zakat, puasa(QS. Al-baqarah:3, 177 dan 183)
3.
Infak disaat lapang dan sempit(QS.Ali Imran:133-134)
4.
Menahan amarah dan memaafkan orang lain(QS. Ali Imran:134)
5.
Takut pada Allah(QS.Al-maidah:28)
6.
Menepati janji (QS.At-taubah:4)
7.
Berlaku lurus pada musuh ketika mereka pun melakkukan hal yang sama(QS.
(QS.At-taubah:7)
8.
Bersabar dan menjadi pendukung kebenaran (QS. Ali Imran:146)
9.
Tidak meminta ijin untuk tidak ikut berjihad (QS.At-taubah:44)
10. Berdakwah
agar terbebas dari dosa ahli maksiat (QS.Al-an’am:69)
g. Keutamaan dan Ganjaran Bagi Orang-orang
Yang Bertaqwa
1. Diberi jalan keluar serta rezeki dari tempat yang tak
diduga-duga(QS.Al-qolam:2-3)
2.
Dimudahkan urusannya (QS.Al-qolam:4)
3.
Dilimpahkan berkah dari langit dan bumi (QS.Al-a’raf:96)
4.
Mendapat petunjuk dan pengajaran (QS. Al-baqarah:2 dan 282, Al-maidah::46)
5.
Mendapat Furqan (QS.Al-anfal:29)
6.
Cepat sadar akan kesalahan (QS. Al-a’raf:201)
7.
Tidak terkena mudharat akibat tipu daya orang lain (QS. Ali Imran:120)
8.
Mendapat kemuliaan, nikmat dan karunia yang besar (QS.Adz-dzariyat:13, Ali Imran:147)
9.
Tidak ada kekhawatiran dan kesedihan (QS.Al-a’raf:35)
10. Sebaik – baik bekal (QS.Al-baqarah:197)
11. Allah bersamanya (QS. Al-baqarah:194)
12. Allah menyukainya (QS. (QS.At-taubah:4)
13. Mendapat keberuntungan (QS. Ali Imran:200)
14. Diperbaiki amalnya dan diampuni dosanya (QS.Saba’:70-71)
15. Mendapat
rahnmat (QS.Al-an’am:155)
16. Tidak
disiasiakan pahala mereka (QS.Yusuf:90)
17. Diselamatkan
dari api neraka (QS.Maryam:71-72)
h. Korelasi
Keimanan dan Ketakwaan
Keimanan pada keesaan Allah yang dikenal dengan istilah tauhid dibagi
menjadi dua, yaitu tauhid teoritis (tauhid rububiyyah)
dan tauhid praktis (tauhid uluhiyyah). Tauhid teoritis
adalah tauhid yang membahas tentang keesaan Zat, keesaan Sifat, dan keesaan
Perbuatan Tuhan. Pembahasan keesaan Zat, Sifat, dan Perbuatan Tuhan berkaitan
dengan kepercayaan, pengetahuan, persepsi, dan pemikiran atau konsep tentang
Tuhan. Konsekuensi logis tauhid teoritis adalah pengakuan yang ikhlas
bahwa Allah adalah satu-satunya Wujud Mutlak, yang menjadi sumber semua wujud. Adapun tauhid praktis yang
disebut juga tauhid ibadah, berhubungan dengan amal ibadah manusia. Tauhid
praktis merupakan terapan dari tauhid teoritis. Kalimat Laa ilaaha
illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah) lebih menekankan pengartian
tauhid praktis (tauhid ibadah). Tauhid ibadah adalah ketaatan hanya kepada
Allah. Dengan kata lain, tidak ada yang disembah selain Allah, atau yang berhak
disembah hanyalah Allah semata dan menjadikan-Nya tempat tumpuan hati dan
tujuan segala gerak dan langkah.
Selama ini pemahaman tentang tauhid hanyalah dalam pengartian beriman
kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Mempercayai saja keesaan Zat, Sifat,
dan Perbuatan Tuhan, tanpa mengucapkan dengan lisan serta tanpa mengamalkan
dengan perbuatan, tidak dapat dikatakan seorang yang sudah bertauhid secara
sampurna. Dalam pandangan Islam, yang dimaksud dengan tauhid yang sempurna
adalah tauhid yang tercermin dalam ibadah dan dalam perbuatan praktis kehidupan
manusia sehari-hari. Dengan kata lain, harus ada kesatuan dan keharmonisan
tauhid teoritis dan tauhid praktis dalam diri dan dalam kehidupan sehari-hari
secara murni dan konsekuen. Dalam
menegakkan tauhid, seseorang harus menyatukan iman dan amal, konsep dan
pelaksanaan, fikiran dan perbuatan, serta teks dan konteks. Dengan demikian
bertauhid adalah mengesakan Tuhan dalam pengartian yakin dan percaya kepada
Allah melalui fikiran, membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan
mengamalkan dengan perbuatan. Oleh karena itu seseorang baru dinyatakan beriman
dan bertakwa, apabila sudah mengucapkan kalimat tauhid dalam syahadat asyhadu
allaa ilaaha illa Alah, (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain
Allah), kemudian diikuti dengan mengamalkan semua perintah Allah dan
meninggalkan segala larangan-Nya.
2.2 EKSISTENSI MANUSIA
Pandangan Islam Terhadap Eksistensi
Manusia
Manusia
secara umum adalah makhluk terhormat dan agung. Pandangan ini secara mutlak
sebagai sikap islam memandang siapapun dia sebagai manusia. Karena itu tidak
ada pengecualian apakah karena warna kulitnya jenis kelaminnya atau agamanya.
Karena Manusia Itu makhluk yang dihormati
Allah SWT
berfirman: Dan sesungguhnya telah Kami
muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri
mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan
yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS. Al Isra:
70). Penghormatan ini menyeluruh mencakup non muslim. Karena istilahnya
manusia, semuanya diberi rizki. Semua manusia dengan latar belakang identitas
beragam itu terhormat dan diberikan anugrah rizki semua tanpa terkecuali. Ini
juga dilakukan oleh rasulullah sendiri karena utusan Allah SWT yang ditugaskan
memberikan pesan kemanusiaan. Tindakannya dicerminkan oleh ucapan dan tindakan
rasulullah. Bagaimana rasul merefleksikan penghormatan manusia ini. Kita akan
melihat bagaimana rasul memperlakukan manusia yang berbeda keyakinan bahkan yang
menentang dan memusuhi rasul.
Konsekuensi
logis dari pernyataan bahwa manusia itu terhormat terlepas dari identitasnya,
maka tidak boleh merendahkannya dan memperlakukannya tidak adil atau zalim.
Mengganggu haknya atau mengurangi haknya. Karena ini jelas dan tegas di dalam
ayat-ayat al quran demikian pula dalam kehidupan nabi, Namun seringkali kita
abaikan.
Allah SWT
berfirman: Dan janganlah kamu membunuh
manusia yang dimuliakan Allah melainkan sesuatu (sebab) yang benar. ( QS. Al
An’am: 151) Ayat Ini diberi komentar oleh ahli tafsir Imam al Qurthubi
dalam al Jami fi Ahkamil Quran. Beliau mengatakan ayat ini merupakan larangan
untuk membunuh jiwa yang dihormati baik yang beriman atau tidak beriman. Jika
kita berkaca dalam sistem masa lalu, orang di luar muslim itu ada beberapa
sebutan. Orang hidup ada dalam kawasan islam karena perjanjian (kafir dzimmi),
mereka yang bukan non muslim yang dilindungi (kafir mu’ahad), dan non muslim
yang dimusuhi (kafir harbi). Pada zaman ini tidak mengenal batas geografis kekuasaan.
Yang menjadi rakyat adalah mereka yang seagama. Lainnya dianggap kelas dua. Ini
sistem yang sudah berabad abad. Pada masa khulafaurrasyidin bukan sistem
dinasti karena suksesinya berbeda. Nabi ketika wafat pun tidak menciptakan
sistem negara.
Rasulullah
bersabda: “Barang siapa yang membunuh
orang yang terikat untuk hidup bersama (mu’ahad), Allah akan mengharamkan
tubuhnya ke dalam surga” (HR. Abu Dawud). Jika kita merujuk pada sistem
demokrasi saat ini istilah kafir mu’ahad disebutkan untuk warga negara asing. Syariat
atau aturan menolak kezaliman dalam segala bentuk karena sangat jelas dalam
ayat dan hadis yang banyak sekali. Prinsip agama menegakkan keadilan. Kezaliman
lawan dari keadilan.
Allah SWt
berfirman: “Kami akan memasang timbangan
(keadilan) yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang
barang sedikitpun.” (QS. Al Anbiya: 47). Ayat ini menunjukkan setiap jiwa
tidak akan dizalimi siapapun dia, jiwa manapun, manusia manapun, beriman kepada
Allah atau tidak. Seorang muslim, nasrani, majusi atau selain itu. Atau sekte
aliran apapun. Kezaliman itu sesuatu yang dibenci. Allah sendiri menyatakan Allah tidak berbuat zalim. Allah
mengharamkan kezaliman kepada semua hambanya.
Abu dzar al
ghifari meriwayatkan hadis (hadis qudsi) :
“Dari nabi, Allah mengatakan, wahai hamba-hambaku, Aku mengharamkan kezaliman
atas diriku dan menjadikan kezaliman itu diantara kalian diharamkan pula. Maka
janganlah kalian saling menzalimi (fala tazlimu).’ (HR: Muslim) Inilah
pandangan Islam yang sesungguhnya bagi seluruh manusia. Pandangan menghargai,
menghormati, memuliakan manusia.
Ibnu Arabi
mengatakan: “Jangan merendahkan siapapun
dan apapun karena Allah tidak merendahkan ketika menciptakan. Sebab mereka yang
merendahkannya adalah merendahkan ciptaan Allah, merendahkan ciptaan Allah
adalah merendahkan penciptanya Allah.”
2.3 MARTABAT MANUSIA
a. Martabat Manusia
Martabat manusia adalah kedudukan manusia yang
terhormat sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang berakal budi
sehingga manusia mendapat tempat yang tinggi dibanding makhluk yang lain.
Ditinjau dan martabatnya, kedudukan manusia itu lebih tinggi dan lebth
terhormat dibandingican dengan makhluk lainnya.
b. Martabat Manusia Menurut Agama Islam
Martabat adalah harga diri tingkatan harkat kemanusiaan dan kedudukan yang
terhormat, dan
martabat saling berkaitan dengan maqam, maksudnya adalah secara dasarnya maqam merupakan
tingkatan martabat seseorang hamba terhadap khalik-Nya, yang juga merupakan
sesuatu keadaan tingkatannya seseorang sufi di hadapan tuhannya pada saat dalam
perjalanan spritual dalam beribadah kepada Allah Swt.
Maqam ini terdiri
dari beberapa tingkat atau tahapan seseorang dalam hasil ibadahnya yang di
wujudkan dengan pelaksanaan dzikir pada tingkatan maqam tersebut, secara umum
dalam thariqat naqsyabandi tingkatan maqam ini jumlahnya ada 7 (tujuh), yang di
kenal juga dengan nama martabat tujuh, seseorang hamba yang
menempuh perjalanan dzikir ini biasanya melalui bimbingan dari seseorang yang
alim yang paham akan isi dari maqam ini setiap tingkatnya, seseorang hamba
tidak di benarkan sembarangan menggunakan tahapan maqam ini sebelum
menyelesaikan atau ada hasilnya pada riyadhah dzikir pada setiap maqam, ia
harus ada mendapat hasil dari amalan pada maqam tersebut.
Tingkat martabat
seseorang hamba di hadapan Allah Swt mesti melalui beberapa proses sebagai
berikut :
1. Taubat;
2. Memelihara diri dari perbuatan yang
makruh, syubhat dan apalagi yang haram;
3. Merasa
miskin diri dari segalanya;
4. Meninggalkan
akan kesenangan dunia yang dapat merintangi hati terhadap tuhan yang maha esa;
5. Meningkatkan kesabaran terhadap
takdirNya;
6. Meningkatkan ketaqwaan dan tawakkal
kepadaNya;
7. Melazimkan muraqabah (mengawasi atau
instropeksi diri);
8. Melazimkan renungan terhadap
kebesaran Allah Swt;
9. Meningkatkan hampir atau kedekatan
diri terhadapNya dengan cara menetapkan ingatan kepadaNya;
10. Mempunyai
rasa takut, dan rasa takut ini hanya kepada Allah Swt saja.
2.4 IPTEK DALAM PANDANGAN ISLAM
Bagi
ilmuwan, Al-Qur`an adalah inspirator, maknanya bahwa dalam al-Qur’an banyak
terkandung teks-teks (ayat-ayat) yang
mendorong manusia untuk
melihat, memandang, berfikir,
serta mencermati fenomena-fenomena alam semesta ciptaan Tuhan yang menarik untuk diselidiki,
diteliti dan dikembangkan. Al-Qur’an
menantang manusia untuk menggunakan akal fikirannya seoptimal
mungkin. Al-Qur`an memuat segala
informasi yang dibutuhkan
manusia, baik yang
sudah diketahui maupun belum diketahui. Informasi tentang ilmu pengetahuan
dan teknologi pun disebutkan berulang-ulang dengan tujuan agar manusia bertindak
untuk melakukan nazhar.
Nazhar
adalah mempraktekkan metode, mengadakan observasi dan penelitian ilmiah
terhadap
segala macam
peristiwa alam di
seluruh jagad ini,
juga terhadap lingkungan
keadaan masyarakat dan historisitas bangsa-bangsa zaman dahulu. Sebagaimana firman Allah berikut ini, Yang Artinya: “Katakanlah
(Muhammad): lakukanlah nadzar (penelitian dengan menggunakan metode ilmiah)
mengenai apa yang ada di langit dan di bumi ...”( QS. Yunus ayat 101). Agama
Islam banyak memberikan penegasan mengenai ilmu pengetahuan baik secara nyata
maupun secara tersamar, seperti yang disebut dalam surat Al-Mujadalah ayat 11
yang artinya sebagai berikut: "Allah
akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang
kamu kerjakan". Maksudnya sebagai berikut : sama-sama dari kelompok
yang beriman, maka Allah SWT akan
masih meninggikan derat
bagi mereka, ialah
mereka yang berilmu Pengetahuan.
Dalam
pandangan Islam, Iptek
juga di gambarkan
sebagai cara mengubah suatu
sumber daya menjadi sumberdaya lain yang lebih tinggi
nilainya, hal ini tercover dalam surat Ar-Ra’d syat 11, yaitu : Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan
sesuatu kaum sehingga mereka
merubah keadaan yang
ada pada diri
mereka sendiri. Dari
ayat tersebut dapat disimpulkan
bahwa, pada dasarnya Al-Qur’an telah mendorong manusia untuk berteknologi supaya kehidupan
mereka meningkat. Upaya ini
harus merupakan rasa
syukur atas keberhasilannya dalam
merubah nasibnya. Dengan
perkataan lain, rasa
syukur atas keberhasilannya dimanifestasikan
dengan mengembangkan terus keberhasilan itu, sehingga dari waktu
kewaktu keberhasilan itu
akan selalu maningkat terus.
Di
dalam Al-Qur’an disebutkan juga secara garis besar, tentang teknologi.
Yaitu tentang kejadian alam semesta dan berbagai proses kealaman lainnya,
tentang penciptaan mahluk hidup, termasuk manusia yang didorong hasrat ingin
tahunya, dipacu akalnya untuk menyelidiki segala apa yang ada di sekelilingnya.
Saintis Muslim seyogyanya menaruh perhatian pada ajaran Agama baik ketika akan melakukan
riset, menerima teori atau mengembangkan IPTEK sebab apa yang dihasilkannya sepenuhnya
untuk kebutuhan manusia, sedangkan Agama (Islam) suatu sistem nilai hidup di dunia yang
mengantarkan hidup yang
kekal dan sesungguhnya kehidupan.
Jadi, yang dimaksud menjadikan
Aqidah Islam sebagai landasan iptek bukanlah bahwa konsep iptek wajib bersumber
kepada al-Qur`an dan al-Hadits, tapi yang dimaksud, bahwa iptek wajib berstandar
pada al-Qur`an dan al-Hadits. Ringkasnya, al-Qur`an dan al-Hadits adalah
standar (miqyas) iptek, dan bukannya sumber (mashdar) iptek. Artinya, apa pun
konsep iptek yang dikembangkan, harus sesuai dengan al-Qur`an dan al-Hadits,
dan tidak boleh bertentangan dengan al-Qur`an dan al-Hadits itu. Jika suatu
konsep iptek bertentangan dengan al-Qur`an dan
al-Hadits, maka konsep itu
berarti harus ditolak.
Misalnya saja Teori Darwin
yang menyatakan bahwa manusia
adalah hasil evolusi dari organisme sederhana yang selama jutaan
tahun berevolusi melalui seleksi alam menjadi organisme yang lebih kompleks
hingga menjadi manusia modern sekarang. Maka Paradigma Islam ini menyatakan
bahwa Aqidah Islam wajib dijadikan landasan pemikiran (qa’idah fikriyah) bagi
seluruh bangunan ilmu pengetahuan.
Ini bukan berarti menjadi Aqidah
Islam sebagai sumber segala macam ilmu pengetahuan, melainkan menjadi standar
bagi segala ilmu pengetahuan. Maka ilmu pengetahuan yang sesuai dengan Aqidah Islam
dapat diterima dan diamalkan, sedang yang bertentangan dengannya, wajib ditolak
dan tidak boleh diamalkan.
Cara islam sendiri memfilter ilmu pengetahuan
dan teknologi yaitu sesuai dengan paradigma islam yaitu Aqidah islam sebagai
dasar IPTEK dan syariat islam menjadi standarisasi IPTEK. Dibawah ini adalah
pemaparannya.
A. Aqidah
Islam Sebagai Dasar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
Ini
adalah cara pertama
islam memfilter perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi
dikehidupan manusia, yaitu aqidah Islam harus dijadikan basis segala konsep dan
aplikasi iptek. Inilah paradigma Islam sebagaimana yang telah dibawa oleh
Rasulullah Saw. Paradigma Islam inilah
yang seharusnya diadopsi oleh kaum
muslimin saat ini.
Bukan paradigma sekuler seperti yang ada sekarang.
Diakui atau tidak, kini umat Islam
telah terjerumus dalam sikap mengekor Barat dalam segala-galanya; dalam
pandangan hidup, gaya hidup, termasuk dalam konsep ilmu pengetahuan. Paradigma sekuler inilah yang bisa menjelaskan, mengapa di dalam sistem
pendidikan yang diikuti orang Islam, diajarkan sistem ekonomi kapitalis yang
pragmatis serta tidak kenal halal haram. Eksistensi paradigma sekuler itu
menjelaskan pula mengapa tetap diajarkan konsep pengetahuan yang bertentangan
dengan keyakinan dan keimanan muslim. Misalnya Teori Darwin yang dusta dan
sekaligus bertolak belakang dengan Aqidah Islam Kekeliruan paradigmatis ini
harus dikoreksi. Ini tentu perlu perubahan fundamental dan perombakan total.
Dengan cara mengganti paradigma sekuler yang ada saat ini, dengan paradigma
Islam yang memandang bahwa Aqidah Islam (bukan paham sekularisme) yang seharusnya
dijadikan basis bagi bangunan ilmu pengetahuan manusia.
Namun di sini perlu dipahami dengan seksama,
bahwa ketika Aqidah Islam dijadikan landasan
iptek, bukan berarti konsep-konsep iptek harus bersumber dari al-Qur`an dan
al-Hadits, tapi maksudnya adalah konsep iptek harus distandardisasi benar
salahnya dengan tolak ukur al-Qur`an dan al- Hadits dan tidak boleh
bertentangan dengan keduanya.
b. Syariah Islam Standar Pemanfaatan Iptek
Cara islam
memfilter perkembangan IPTEK kedua Islam dalam perkembangan iptek, adalah bahwa Syariah Islam harus
dijadikan standar pemanfaatan iptek. Ketentuan halal- haram (hukum-hukum syariah Islam) wajib dijadikan tolok ukur dalam
pemanfaatan iptek, bagaimana pun
juga bentuknya. Iptek yang boleh dimanfaatkan, adalah yang telah dihalalkan oleh
syariah Islam.
Sedangkan iptek
yang tidak boleh
dimanfaatkan, adalah yang
telah diharamkan syariah
Islam. Keharusan tolok ukur syariah
ini didasarkan pada banyak ayat dan juga hadits
yang mewajibkan umat
Islam menyesuaikan perbuatannya (termasuk menggunakan iptek) dengan
ketentuan hukum Allah dan Rasul-Nya. Kontras dengan ini, adalah apa yang ada di Barat sekarang dan juga
negeri-negeri muslim yang
bertaqlid dan mengikuti
Barat secara membabi
buta. Selama sesuatu
itu bermanfaat, yakni dapat
memuaskan kebutuhan manusia, maka ia dianggap benar dan absah untuk dilaksanakan. Meskipun
itu diharamkan dalam ajaran agama.
Keberadaan standar manfaat itulah yang dapat menjelaskan,
mengapa orang Barat mengaplikasikan iptek secara tidak bermoral, tidak berperikemanusiaan, dan bertentangan dengan
nilai agama. Misalnya menggunakan
bom atom untuk membunuh ratusan ribu manusia tak berdosa, memanfaatkan bayi tabung tanpa melihat moralitas (misalnya
meletakkan embrio pada ibu pengganti), mengkloning manusia (berarti
manusia bereproduksi secara
a-seksual, bukan seksual), mengekploitasi alam secara serakah walaupun menimbulkan pencemaran
yang berbahaya,
dan
seterusnya.
Sebagaimana
firman Allah Artinya : “Maka
demi Tuhanmu, mereka
(pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu
hakim terhadap perkara
yang mereka perselisihkan, kemudian
mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan
yang kamu berikan,dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (Qs. an-Nisaa` [4]:
65)”. Dan Firman Allah yang lainnya Artinya : “Ikutilah apa yang diturunkan
kepadamu dari Tuhanmu
dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin
selain-Nya…[i/]” (Qs. al-A’raaf [7]:3).
Karena itu,
sudah saatnya standar manfaat yang salah itu dikoreksi dan diganti dengan standar yang benar. Yaitu standar yang
bersumber dari pemilik segala ilmu yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, yang amat mengetahui mana yang secara
hakiki bermanfaat bagi manusia, dan
mana yang secara hakiki berbahaya bagi manusia. Standar itu adalah segala perintah
dan larangan Allah Swt. yang bentuknya secara praktis dan konkret adalah
syariah Islam. Sebagaimana firman
Allah (24 dan 25) yang artinya “ Tidakkah
kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik
seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit”,
dan Pohon itu memberikan buahnya pada Setiap musim dengan
seizin Tuhannya. Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka
selalu ingat.
(QS.AL.Ibrahim:24-25)
Dari beragam
uraian di atas
bahwasanya kita dapat
melihat sendiri bagaimana pandangan Islam terhadap
Iptek. Dalam pedoman utamanya (Al-Qur’an), banyak disebutkan sesuatu hal yang berkaitan dengan Iptek, hal ini
menunjukkan bahwa Islam sangat erat
sekali dengan Iptek. Jadi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini
merupakan wujud dari implikasi
Al-Qur’an yang sebenarnya. Banyak seruan-seruan di dalamnya yang menganjurkan manusia untuk berfikir dan
mengembangkan potensinya dalam pengetahuan.
Namun satu
hal yang sangat disayangkan, umat muslim sangat rendah dalam bidang Iptek, sehingga ketinggalan
perkembangan dengan orang-orang non muslim. Semoga dengan ini umat Islam sadar dan mau mengembangkan pengetahuannya dalam
berbagia hal, sehingga menjadi umat
yang berkualitas dengan adanya ketakwaan dan pengetahuan yang tinggi.
BAB III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Ilmu
pengetahuan dalam Al-Quran adalah proses pencapaian segala sesuatu yang
diketahui manusia melalui tangkapan pancaindra sehingga memperoleh
kejelasan.Teknologi merupakan salah satu unsur budaya sebagai hasil penerapan
praktis dari ilmu pengetahuan yang obyektif. Hakikat manusia adalah makhluk
ciptaan Allah SWT yang memiliki fitrah, akal, kalbu, kemauan serta
amanah. Manusia dengan
segenap potensi (kemampuan)
kejiwaan naluriah, seperti akal
pikiran, kalbu kemauan yang ditunjang dengan kemampuan jasmaniahnya, manusia akan
mampu melaksanakan amanah Allah
dengan sebaik-baiknya sehingga
mencapai derajat manusia yang
sempurna (beriman, berilmu dan beramal) manakala manusia memiliki kemaunan serta kemampuan
menggunakan dan mengembangkan segenap
kemampuan karunia Allah tersebut.
Manusia adalah makhluk Allah Swt yang
diberikan kelebihan berupa Akal untuk berfikir dan mengingat apa-apa yang ia
pelajari, alami, dan lakukan.
Menurut Nurcholis madjid, manusia
merupakan makhluk ciptaan Allah yang mengagumkan dan penuh misteri. Dia
tersusun dari perpaduan dua unsur; yaitu segenggam tanah bumi, dan ruh Allah.
Maka siapa yang hanya mengenal aspek tanahnya dan melalaikan aspek tiupan ruh
Allah, maka dia tidak akan mengenal lebih jauh hakikat manusia. Al-Qur’an
sendiri juga menyatakan bahwa manusia memang merupakan makhluk yang paling
sempurna yang diciptakan oleh Allah Swt.
3.2 Saran
Untuk menyikapi IPTEK dalam kehidupan sehari-hari yang islami adalah
memanfaatkan perkembangan IPTEK untuk meningkatkan martabat manusia dan meningkatkan
kualitas ibadah kepada Allah SWT.
Keimanan dan ketak"aan tidak ada dengan sendirinya. 'emuanya
harusdiajarkan dan dipelajari. !arena itulah, peran rang tua sangat penting
dalammengajarkan kedua hal tersebuT. Tak hanya itu, kita juga harus senantiasa
memperkaya keiman danketak"aan kita dengan terus belajar dan berbuat baik.
!arena hal itu dapatmembantu kita menghadapi masalah yang terjadi dalam
kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
Lubis, S'yamsuddin,
Dkk. 2013. Islam Universal Menebar Islam Sebagai Agama Rahmatan Lil’Alamiin.
Jakarta : Hartomo Media Pustaka.
Zamawi,
somad, dkk. 2009. Pendidikan agama islam. Jakarta : Unifersitas Trisakti.
Barata, Mappasessu, Muhammadong.
2009. Pendidikan Agama Islam. Makassar: TimDosen UNM
Abu AL- Jauzaa’. Definisi Iman. http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/02/definisi-iman.html
Mariana Ramadhani. Konsep Ketuhanan dalam
Islam.http : //marianaramadhani. wordpress. Com / coretan–kuliah
konsep - ketuhanan-dalam-islam/
No comments:
Post a Comment