Tuesday, November 1, 2016

MAKALAH KARBOHIDRAT “Karakteristik Dekstrin dari Pati Ubi Kayu yang Diproduksidengan Metode Pragelatinisasi Parsial”



TUGAS
MAKALAH KARBOHIDRAT
Karakteristik Dekstrin dari Pati Ubi Kayu yang Diproduksidengan Metode Pragelatinisasi Parsial












                                                Aldy radhezy










KATA PENGANTAR

            Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, alhamdulillah penulis  bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “Karakteristik Dekstrin dari Pati Ubi Kayu yang Diproduksidengan Metode Pragelatinisasi Parsial dan dengan harapan semoga makalah ini bisa bermanfaat dan menjadikan referensi bagi kita sehingga lebih menambah wawasan kita tentang karakteristik destrin.
Akhir kata semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita, khususnya pada saya sendiri dan semua yang membaca makalah ini semoga bisa  bermanfaat dan menambah pengetahuan kita.



DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.............................................................................................. i
KATA PENGANTAR............................................................................................ ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................... iii
BAB I    PENDAHULUAN
A.  Latar belakang....................................................................................................3
B.  Rumusan Masalah..............................................................................................3
C.  Tujuan................................................................................................................4
BAB II PEMBAHASAN

BAB III PENUTUP
A. Simpulan..........................................................................................................17
B. Saran.................................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA



I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dekstrin merupakan produk modifikasi/turunan pati yang banyak digunakan pada industry pangan dan farmasi. Dibandingkan pati asal, desktrin memiliki berbagai kelebihan karakteristik, antara lain kelarutan dalam air, daya serap air yang lebih tinggi, dan lebih stabil selama penyimpanan (Marchal, et al., 1999).
Proses produksi dekstrin dari tapioka dapat dilakukan secara fisik, kimia dan enzimatis. Salah satu metode fisik untuk memproduksi dekstrin dari pati ubi kayu, yaitu dengan proses pragelatinisasi parsial. Proses pragelatinisasi parsial adalah proses modifikasi pati secara fisik menggunakan metode pemanasan pada suhu di atas titik gelatinisasi pati (Rismana, 2002; Kearsley and Dziedzic, 1995).
Menurut Kearsley and Dziedzic (1995), tapioka (pati ubi kayu) memiliki kisaran suhu gelatinisasi 52 - 64oC. Proses modifikasi pati secara fisik menjadi dekstrin menggunakan metode pragelatinisasi parsial dengan alat drum dryer merupakan teknologi yang relatif sederhana dan dapat diterapkan oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan aplikasi metode pragelatinisasi parsial pada proses produksi dekstrin dari ubi kayu dengan menggunakan alat pengering drum (drum dryer).
B. Rumusan Masalah                                                       
Adapun rumusan masalah yang diperoleh pada makalah ini yaitu sebagai berikut:
1.      bagaimana  mengoptimasi proses produksi dekstrin dari ubi kayu dengan menggunakan metode pragelatinisasi parsial
2.       bagaimana pengujian karakteristik dekstrin yang dihasilkan oleh metode pragelatinisasi parsial.
A.    Tujuan
   Adapun tujuan yang diperoleh pada makalah ini yaitu sebagai berikut:
1.                  untuk melakukan optimasi proses produksi dekstrin dari ubi kayu dengan menggunakan metode pragelatinisasi parsial
2.       pengujian karakteristik dekstrin yang dihasilkan oleh metode pragelatinisasi parsial.



II.   PEMBAHASAN
A.       Pengujian komposisi kimia ubi kayu segar
Hasil analisis komposisi kimia ubi kayu segar varietas Thailand (singkong racun), disajikan pada Tabel 1. Pada Tabel 1, terlihat bahwa varietas Thailand memiliki kadar pati yang cukup tinggi (34,1009 % dan HCN yang cukup tinggi (138,76 ppm). Ditinjau dari kandungan HCN-nya, ubi kayu segar varietas Thailand memiliki kandungan HCN > 100 ppm, sehingga tidak memenuhi syarat untuk dikonsumsi sebagai bahan panga
B.        Karakteristik Kimia (Komposisi Sakarida Dekstrin)
Pengujian sakarida dekstrin ubi kayu, dilakukan dengan menggunakan alat HPLC (High Performance Liquid Chromatography) dengan metode reversed phase chromatography menggunakan fase diam non polar (senyawa c-18 yang diikat pada silika), dan fase mobil air. Hasil pengujian sakarida dekstrin ubi kayu, disajikan pada Gambar 2.
Dari hasil pengamatan, nilai komposisi sakarida dekstrin ubi kayu meningkat pada perlakuan suhu pemanasan pragelatinisasi parsial 110 oC, pada setiap ketersediaan pati dan konsentrasi perlakuan yang diterapkan. Nilai komposisi sakarida dekstrin ubi kayu berkisar antara 6,85 % -13,7 %dengan nilai dekstrin tertinggi (13,7 %) diperoleh dari ketersediaan pati kering (P2) pada konsentrasi 40 % dan suhu pemanasan pragelatinisasi parsial 110 oC. Sedangkan nilai terendah diperoleh dari ketersediaan pati basah (P1) pada konsentrasi 20 % dan suhu pemanasan pragelatinisasi parsial 80 oC (Gambar 1). Nilai komposisi sakarida dekstrin yang lebih tinggi daripada ketersediaan pati kering (P2) ini diduga berkaitan dengan sediaan pati kering (P2) sudah mengalami proses pemanasan dua kali (pengeringan saat dijadikan tapioka dan pemanasan pragelatinisasi) dibandingkan ketersediaan pati basah (P1).
 Adanya perbedaan komposisi sakarida dekstrin antarperlakuan ini sangat dipengaruhi oleh ketersediaan pati, konsentrasi, dan suhu pemanasan yang berbeda (Hidayat, 2009b). Semakin banyak konsentrasi pati yang digunakan, maka semakin banyak pati yang terkonversi menjadi dekstrin

Gambar 2. Hasil pengujian dekstrin ubi kayu varietas Thailand pada berbagai ketersediaan pati, perlakuan konsentrasi, dan suhu pemanasan pragelatinisasi parsial
                                                                                            
Proses gelatinisasi sebagian adalah proses modifikasi pati secara fisik menggunakan metode pemanasan pada suhu di atas titik gelatinisasi pati (Kearsley dan Dziedzic, 1995 dalam Rismana, 2002). Menurut Winarno (1984), suhu gelatinisasi tergantung pada konsentrasi pati. Semakin kental larutan, maka semakin lambat suhu tercapai. Suhu gelatinisasi berbeda-beda untuk setiap jenis pati dan merupakan suatu kisaran. Pada Gambar 2, terlihat bahwa nilai dekstrin pada konsentrasi dan suhu yang rendah cenderung menurun.
C.    Karakteristik Fisik Dekstrin Ubi Kayu Warna
Hasil pengamatan warna dekstrin menggunakan alat whitenessmeter yang telah dikalibrasi, disajikan pada Gambar 3. Pada Gambar 3, terlihat bahwa ketersediaan pati kering (P2), pada seluruh perlakuan memiliki warna yang lebih putih daripada ketersediaan pati basah (P1). Hasil pengujian pada Gambar 3, juga menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi dan suhu pemanasan pragelatinisasi yang menghasilkan tepung dekstrin ubi kayu dengan warna paling putih, yaitu perlakuan konsentrasi 40 % dan suhu pemanasan 110 oC. Semakin tinggi konsentrasi dan suhu pemanasan selama proses pragelatinisasi sebagian, maka akan cenderung semakin putih tepung yang dihasilkan.
Gambar 3. Hasil pengujian warna dekstrin ubi kayu varietas Thailand pada berbagai ketersediaan pati, perlakuan konsentrasi, dan suhu pemanasan pragelatinisasi parsial
Dari hasil pengamatan, nilai warna dekstrin ubi kayu berkisar antara 80,33 - 81,93 dengan nilai warna dekstrin tertinggi terdapat pada dekstrin ubi kayu sediaan pati basah (P1) pada konsentrasi 40 % (K3) dan pemanasan pada suhu 110 oC (T3) (Gambar 3). Semakin tinggi konsentrasi dan suhu pengeringan selama proses pragelatinisasi parsial, maka akan cenderung semakin putih tepung yang dihasilkan. Hal ini diduga karena jumlah air yang diuapkan lebih sedikit dan semakin tingginya konsentrasi, selama waktu proses pragelatinisasi parsial (90 menit).

D.     Kelarutan Dalam Air
Pengujian kelarutan dalam air dekstrin ubi kayu, menggunakan metode sentrifugasi. Hasil pengujian kelarutan dalam air dekstrin ubi kayu, disajikan pada Gambar 4. Dari hasil pengamatan, nilai kelarutan dekstrin ubi kayu berkisar antara 35,12 % - 61,36 % dengan nilai kelarutan dekstrin tertinggi terdapat pada dekstrin ubi kayu ketersediaan pati kering (P2) pada konsentrasi 50 % (K4) dan pemanasan pada suhu 110 oC (T4) (Gambar 4).
Hasil pengujian juga menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi dan suhu pemanasan sangat memengaruhi karakteristik kelarutan dalam air dekstrin ubi kayu. Dibandingkan dengan pati asal, dekstrin (produk turunan pati) memiliki kelarutan dalam air yang lebih tinggi dan kekentalan yang lebih rendah. Hasil pengujian pada Gambar 4, juga menunjukkan bahwa terjadi trend peningkatan kelarutan dalam air sesuai dengan semakin tingginya konsentrasi dan suhu pemanasan. Kelarutan dalam air terendah diperoleh pada perlakuan total padatan 20% dan suhu pemanasan 80 Oc
Gambar 4. Hasil pengujian kelarutan dalam air dekstrin ubi kayu varietas Thailand pada berbagaiketersediaan pati, perlakuan konsentrasi, dan suhu pemanasan pragelatinisasi parsial

Karakteristik kelarutan pati dan produk-produk turunannya berkaitan dengan panjang polimer pati. Menurut Kearsley dan Dziedzic (1995), semakin rendah panjang polimer rantai pati, maka akan semakin tinggi kelarutannya. Ketika pati dipanaskan dalam air yang berlebih, ikatan hidrogen yang akan menstabilkan struktur pati, kemudian putus dan digantikan oleh ikatan hidrogen antara pati dan air. Hal inilah yang mengakibatkan granula pati mengembang dan memudahkannya untuk larut di dalam air (Azeez, 2005). Dibandingkan dengan pati asal, dekstrin (produk turunan pati) memiliki kelarutan dalam air yang lebih tinggi dan kekentalan yang lebih rendah. Kelarutan dalam air yang tinggi, menunjukkan jumlah dekstrin yang tinggi juga (Hidayat, 2009b).
 Menurut Artiani (2007), semakin lama waktu proses modifikasi pati, akan semakin banyak senyawa amilopektin yang tereduksi sehingga pati yang dihasilkan semakin mudah larut ke dalam air dan mengakibatkan kenaikan persentase kelarutan. Selama hidrolisis tejadi pemotongan ikatan α-(1,4) glikosidik secara acak sehingga dihasilkan oligosakarida, maltosa dan glukosa yang mudah larut dalam air (Ega, 2002).
E.     Daya Serap Air (Swelling Power)
Pengujian daya serap air tepung ubi kayu, menggunakan metode sentrifugasi. Hasil pengujian daya serap air tepung ubi kayu, disajikan pada Gambar 5. Pada Gambar 5, terlihat bahwa ketersediaan pati, konsentrasi, dan suhu pemanasan pragelatinisasi parsial berpengaruh terhadap karakteristik kelarutan dalam air dan daya serap air dekstrin.yang dihasilkan.
Hasil pengujian pada Gambar 5, juga menunjukkan bahwa terjadi trend peningkatan daya serap air sesuai dengan semakin tingginya konsentrasi. Daya serap air terendah diperoleh pada perlakuan konsentrasi 20%.
 Dari hasil pengamatan, nilai daya serap air dekstrin ubi kayu berkisar antara 16,27 % - 20,67 % dengan nilai daya serap air dekstrin tertinggi terdapat pada dekstrin ubi kayu ketersediaan pati kering pada konsentrasi 50 % (K4) dan pemanasan pada suhu 90 oC (T2) (Gambar 5). Hasil pengujian pada Gambar 5, juga menunjukkan bahwa terjadi trend penurunan daya serap air akibat semakin tingginya suhu pemanasan untuk semua varietas.
Gambar 5. Hasil pengujian daya serap air dekstrin ubi kayu varietas Thailand pada berbagai ketersediaan pati, perlakuan konsentrasi, dan suhu pemanasan pragelatinisasi parsial
Proses gelatinisasi terjadi apabila pati mentah dimasukan ke dalam air dingin. Granula patinakan menyerap air dan membengkak, tetapi jumlah air yang diserap dan pembengkakannya terbatas.nGelatinisasi merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam proses hidrolisis/liquifikasi, karenad larutan pati harus sempurna. Jika larutan pati terlalu pekat, maka akan sulit tersuspensi dengan baik sehingga selama proses gelatinisasi, terjadi pengendapan partikel-partikel pati. Oleh karena itu, proses gelatinisasi ini dapat dilakukan dengan membuat bubur pati dengan konsentrasi antara 25-40 % padatan kering (Winarno, 1996 dalam Jariyah, 2002).
Swelling power sangat dipengaruhi oleh ikatan antarmolekul penyusun pati. Dengan masuknya air ke dalam molukul pati, ikatan antarmolekul pati akan melemah sehingga nilai swelling power pati lebih tinggi daripada pati alami (Aziz, 2004).
Hasil penelitian Adity (2009) mengatakan bahwa semakin kecil perbandingan pati dan air, maka semakin besar nilai swelling power nilai kelarutan, semakin besar dan volume minyak jahenya, akibatnya swelling power dan kelarutan cenderung meningkat. Swelling power sangat dipengaruhi oleh keberadaan gugus amilosa sebagai salah satu komponen penyusun pati. Semakin lama waktu proses, maka semakin banyak amilosa yang tereduksi, sehingga penurunan jumlah amilosa tersebut mengakibatkan kenaikan swelling power (Sasaki dan Matsuki, 1998 dalam Artiani, 2007).
Hasil penelitian Hidayat dkk (2009b), juga menunjukkan bahwa sebagian dari tepung ubi kayu metode gelatinisasi memiliki karakteristik daya serap air dan kelarutan dalam air yang lebih baik daripada tepung ubi kayu asal. Lebih tingginya nilai daya serap air dan kelarutan dalam air tepung ubi kayu metode gelatinisasi, sebagian berkaitan dengan terhidrolisnya pati dan terbentuknya komponen yang lebih sederhana dalam bentuk dekstrin.
Menurut Marchal dkk, (1999), produk turunan pati memiliki daya serap air dan kelarutan dalam air yang lebih baik daripada pati asal. Menurut Kearsley and Dziedzic (1995), kandungan amilosa dan amilopektin juga akan berhubungan dengan daya serap air. Pati dengan kadar amilosa tinggi, dapat menyerap dan
melepaskan air lebih cepat. Selain menyerap air lebih banyak, pati dengan kadar amilosa yang tinggi memiliki daya kembang yang lebih besar saat dimasak,s sehingga sering digunakan untuk produk ekstrusi.
F.      Karakteristik Fungsional Pembentukan Reaksi Warna + Iod
Pengujian pembentukan reaksi warna + Iod dekstrin ubi kayu, dilakukan dengan cara mengamati pembentukan warna setelah sampel dekstrin ditetesi dengan larutan Iod 0,01 N. Iodine akan teradsorbsi pada permukaan polisakarida pada saat terikat pada ikatan antarmonomermonomernya, sehingga terbentuk warna kompleks yang spesifik. Pembentukan reaksi warna dekstrin ubi kayu dengan iodin dari biru menjadi ungu kemerahan. Hasil pengujian reaksi warna + Iod dekstrin ubi kayu, disajikan pada Tabel 2.
Pengujian reaksi warna + Iod dekstrin ubi kayu, dilakukan dengan cara mengamati pembentukan warna setelah sampel suspensi tepung ditetesi dengan larutan Iod 0,01 N. Hasil pengujian reaksi warna + Iod dekstrin ubi kayu, disajikan pada Tabel 2. Pada Tabel 2, terlihat bahwa ketersediaan pati ubi kayu tidak berpengaruh terhadap reaksi warna + Iod tepung.yang dihasilkan. Hasil pengujian pada Tabel 2, juga menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi dan suhu pemanasan pragelatinisasi parsial sangat berpengaruh terhadap parameter pembentukan reaksi warna + Iod tepung ubi kayu.
Hasil pengujian pada Tabel 2, juga menunjukkan bahwa sejak dari perlakuan konsentrasi 20 % dan suhu pemanasan 80 oC, telah terjadi pemutusan polimer pati dan terbentuk dekstrin yang terdeteksi dari terbentuknya warna ungu kemerahan.

Tabel 2. Hasil pengujian pembentukan reaksi warna + Iod (secara titrasi) dekstrin ubi kayu varietas Thailand pada berbagai perlakuan ketersediaan pati, konsentrasi dan suhu pemanasan pragelatinisasi parsial
Hasil pengujian pada Tabel 2, menunjukkan bahwa kedua ketersediaan pati ubi kayu menunjukkan pengaruh yang sama terhadap karakteristik pembentukan reaksi warna + Iod dekstrin yang dihasilkan. Hidayat dkk (2009b), melaporkan bahwa sebagian aplikasi dari proses gelatinisasi pada pembuatan tepung ubi kayu modifikasi, dapat merubah karakteristik pembentukan reaksi warna pati ubi kayu dengan iodin dari biru menjadi ungu kemerahan. Pembentukan reaksi warna + iod pada sampel pati, dapat digunakan untuk mengetahui panjangnya polimer pati dan produk-produk turunannya, terjadinya pemutusan polimer pati, dan terbentuknya dekstrin.
Hasil pengujian pada Tabel 2, juga menunjukkan bahwa mulai dari perlakuan konsentrasi 20 % (K1) dan suhu pengeringan 80 oC (T1), telah terjadi pemutusan polimer pati dan terbentuk dekstrin yang terdeteksi dari terbentuknya warna ungu kemerahan. Perlakuan konsentrasi memiliki pengaruh yang nyata terhadap pembentukan reaksi warna + Iod.
G.    Kondisi Mikroskopis Granula
Pengujian kesempurnaan derajat gelatinisasi dekstrin ubi kayu dilakukan dengan metode mikroskop polarisasi, yaitu dengan cara membandingkan kondisi granula pati tepung ubi kayu (sebelum proses gelatinisasi sebagian) dan granula pati tepung dekstrin (setelah proses gelatinisasi sebagian).
 Pada Tabel 3, terlihat bahwa ketersediaan pati dekstrin ubi kayu tidak berpengaruh terhadap kondisi mikroskopis granula pati tepung.yang dihasilkan. Hasil pengujian pada Tabel 3, juga menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi dan suhu pemanasan pragelatinisasi parsial sangat berpengaruh terhadap parameter pembentukan reaksi warna + Iod dekstrin ubi kayu.

Tabel 3. Hasil pengujian kondisi mikroskopis granula dekstrin ubi kayu varietas Thailand pada berbagai perlakuan ketersediaan pati, konsentrasi dan suhu pemanasan pragelatinisasi parsial
Hasil pengujian menunjukkan bahwa pada sebagian produk dekstrin yang dihasilkan, telah terjadi pemecahan granula pati. Menurut Muchtadi dkk, 1988 dalam Hidayat, 2009, proses gelatinisasi akan terjadi melalui berbagai tahapan, dan tahapan akhir proses ditandai dengan pecahnya granula serta teperangkapnya amilopektin dalam struktur amilosa.



                                                     IV. PENUTUP
A. Simpulan
Pada proses produksi dekstrin ubi kayu metode pragelatinisasi parsial, perbedaan ketersediaan pati ubi kayu berpengaruh terhadap warna, kelarutan dalam air, daya serap air (swelling power), dan komposisi sakarida dekstrin. Pada proses produksi dekstrin ubi kayu metode pragelatinisasi parsial, perlakuan konsentrasi dan suhu pemanasan berpengaruh terhadap warna, komposisi sakarida dekstrin, kelarutan dalam air,  dan daya serap air (swelling power). Perlakuan ketersediaan pati kering (P2) konsentrasi 40 % (K3) dan suhu pemanasan pragelatinisasi parsial 110 oC (T4) akan menghasilkan dekstrin ubi kayu dengan karakteristik sifat fungsional yang lebih baik yakni menghasilkan nilai warna 81,27, komposisi sakarida dekstrin 13,77 %, kelarutan dalam air 57,77 %, daya serap air (swelling power) 18,93 %, reaksi warna + Iod membentuk warna merah keunguan, dan kondisi mikroskopis granula ditandai dengan hilangnya sebagian sifat birefringent.
B.     Saran
Diperlukan penelitian lebih lanjut dalam bentuk aplikasi penggunaan dekstrin ubi kayu metode gelatinisasi sebagian, sebagai bahan baku pada pengolahan aneka produk pangan



DAFTAR PUSTAKA
Nurbani Kalsum dan Surfiana, 2012 Karakteristik Dekstrin dari Pati Ubi Kayu yang Diproduksi dengan Metode Pragelatinisasi Parsial Jurusan Teknologi Pertanian, Politeknik Negeri Lampung 13 (1): 13-23